jump to navigation

Televisi Indonesia Maret 13, 2010

Posted by ony saputra in Uncategorized.
trackback

Akhir-akhir ini miris sekali melihat acara televisi Indonesia yang sama sekali tidak menghidupkan unsur pendidikan untuk para generasi muda. Semua didominasi dengan acara-acara yang bersifat materil dan selalu mencerminkan kehidupan yang seolah-olah mudah sekali dihadapi. Misalnya saja adalah semakin banyaknya sinetron yang tidak mencerminkan karakter asli bangsa Indonesia, seperti pergaulan bebas, kekayaan yang tidak masuk akal, dan cerita-cerita yang tidak bermutu lainnya. Hal ini akan menjadikan mental generasi muda menjadi tidak kuat dan akan selalu mengikuti contoh-contoh yang tidak baik yang diberikan oleh artis-artis idola mereka.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia ini sekarang jauh lebih banyak ketimbang penduduk yang berkecukupan. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang digambarkan oleh sinetron-sinetron yang ditayangkan di televisi kita sekarang. Pemirsa diajak untuk berkhayal akan kehidupan yang serba berkecukupan, serba ada dan diajak untuk menikmati kekayaan dan kemewahan semu. Tidak hanya itu, lewat sinetron juga diajak untuk menggunjing orang lain, membenci orang lain serta diajarkan juga cara merencanakan kejahatan. Bukankah itu sangat menjerumuskan para penonton televisi di rumah. Dan jangan lupa juga, semua sinteron kebanyakan disaksikan oleh ibu-ibu dan mungkin juga anak-anak perempuan mereka. Ibu adalah sosok dimana ia harus menjadi panutan oleh anak-anaknya. Nah bagaimana bisa menjadi panutan kalau cara dan pola pemikirannya sudah terkontaminasi oleh jalan cerita yang diajarkan lewat sinetron-sinetron yang rajin ia tonton. Dan dimana peran serta pemerintah dalam hal ini ? saya rasa tidak ada.

Selain sinetron, acara tidak bermutu lainnya adalah program bertema gosip. Bayangkan, mulai pukul 06.00 pagi harin hingga tengah malam, pemirsa disajikan dengan acara bertemakan gosip-gosip pada selebritis yang tidak jelas kebenarannya. Kalaupun itu benar, masih perlu juga ditanyakan kelayakannya untuk dikupas dalam acara seperti itu. Pola kehidupan artis dan selebritis yang kawin cerai, kehidupan bebas mereka sangatlah tidak pantas untuk diulas baik dalam bentuk acara apapun. Dan seperti dengan sinetron, acara bertemakan gosip seperti ini sangat disegani oleh pada ibu-ibu rumah tangga yang dikhawatirkan akan mempengaruhi kehidupan realnya dalam keluarga. Dan selama ini apakah ada peran serta dari pemerintah atau pejabat terkait yang menangani hal ini, atau sudah beruntung jika hanya sekedar membahasnya tanpa menanganinya. Sama sekali tidak ada.

Ketiga adalah acara reality show, seperti termehek-mehek, apakah kau masih mencintaiku, dan acara-acara reality show yang bertemakan sejenis. Sama seperti dua saudaranya di atas, acara seperti ini tidaklah ada manfaatnya bagi para generasi muda pada umumnya. Penonton diajak untuk mengikuti keburukan seseorang secara nyata. Jika dibandingkan dengan sinetron, acara ini jauh lebih menyakitkan, karena ditampilkan secara utuh tanpa ada skenario dibalik penayangannya. Aib dibuka dan diperlihatkan secara gamblang kepada pemirsa yang menyaksikan acara tersebut. Pemirsa dibawa emosinya, marah sedih, itu adalah target yang harus dicapa oleh para produser acara reality show tersebut.

Sebenarnya masih banyak acara-acara yang seharusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Karena manusia di dunia ini cenderung ke arah visual, dimana ia akan cepat belajar dari apa yang dilihatnya. Di sini inilah peran dari televisi, sedikit demi sedikit berusaha untuk membunuh mental generasi muda kita. Lalu acara atau program yang diharapkan nantinya ? Sebenarnya banyak sekali jenis acara yang bisa memotivasi bangsa kita, acara-acara yang bisa menjadikan pelajaran dari kehidupan sebelumnya dan acara-acara yang bisa mengasah pengetahuan kita. Seperti halnya, mario teguh golden ways, kick andy, dan acara bertemakan wawasan nusantara. Acara-acara seperti itulah yang bisa mengubah pola pikir generasi muda kita untuk semakin bisa menanamkan kecintaannya kepada bangsa sendiri, bukan sebaliknya, yaitu terlena dengan kehidupan semu yang digambarkan oleh sinetron-sinetron yang ada sekarang.

Semoga sedikit dari pemikiran ini bisa memberikan pencerahan dan secuil kesadaran bagi para pembaca untuk bisa memilah-milah, mana yang harus kita tonton, dan mana yang harusnya kita cegah agar tidak dilihat oleh anak-anak kita, karena anak-anak kita adalah aset masa depan kita semua, jangan sampai otak mereka terkontaminasi dengan entertainment yang tidak sesuai dengan jiwa mereka.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.